Pertemuan ke 15 Fisafat Islam

Pertemuan ke 15 Filsafat Islam

Nama  : Azalia Naila Putri Adji

NIM    :11220511000137

Kelas   : Jurnalistik 3C

Pada kelas filsafat islam pertemuan terakhir ini dilaksanakan secara offline di ruang Theater lt.6 gedung fdikom. Pada pertemuan terakhir ini akan membahas materi yaitu “Ibnu Rusyd: Kritik Terhadap Emanasionisme dan Pengaruhnya di Eropa”, materi tersebut juga akan di presentasikan oleh kelompok terakhir yaitu kelompok 13 dari kelas C dan D Jurnalistik. Di kelas Bapak Study Rizal selaku dosen juga akan memaparkan materi tersebut kepada para mahasiswa/i. Beberapa penjelasan yang bisa saya ambil mengenai materi tersebut,

“Ibnu Rusyd: Kritik Terhadap Emanasionisme dan Pengaruhnya di Eropa”.

Ibn Rusyd atau nama lengkapnya Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd, berasal dari keturunan Arab kelahiran Andalusia. Ibn Rusyd lahir di Andalusia (Spanyol) tepatmya di kota Kordoba tahun 526H/1198 M. Ibnu Rusyd, seorang filsuf muslim, menghargai emanasionisme dan mengkritiknya dalam konteks filsafat islam. Kritik Ibnu Rusyd terhadap emanasionisme yaitu:

-Percampuran teks ajaran Aristoteles dengan ajaran agama neoplationisme, Ibnu Rusyd mengrikitik penggabungan konsep emanasi dari Ibnu Sina, yang berasal dari neoplatonisme dengan ajaran Aristoteles.

-Ibnu Rusyd menekankan bahwa ketidakcocokan antara ajaran Neoplationisme dan ajaran agama Islam mencuriginya konsep emanasi.

-Ibnu Rusyd juga mengkritik pengaruh orang ketiga, yaitu Tuhan, dalam konsep emanasi yang dijelaskan oleh Ibnu Sina.

-Ibnu Rusyd mengkritik tiga kerancuan filsafat Al-ghazali, yaitu alam adalah Qadim (ada tanpa permulaan), kebangkitan jasmanai (dari kubur), dan kehidupannya sesudah mati.

-Ibnu Rusyd menggunakan prinsip hukum kausal dari Aristoteles dalam merenungkan pemikiran Al-Ghazali tentang emanasionisme.

Pengaruh Ibnu Rusyd tidak secara langsung tetapi melalui murid-muridnya dari Eropa yang belajar di Spanyol dan mereka ini dikenal dengan Averoissme. Averoissme memiliki pandangan tertentu tentang hubungan Bahasa Falsafat dan Bahasa Agama dan pandangan ini berakar pada pemikiran Ibnu Rusyd. Rasionalitas filsafat Ibn Rusyd justru membawa angin segar bagi dunia Eropa, bahkan mampu membebaskan Eropa dari cengkraman hegemoni gereja. Kehadiran filsafat Ibn Rusyd telah mengobarkan api revolusi yang menghendaki pemisahan sains dari agama. Ibn Rusyd, dengan kemampuannya mengomentari karyakarya Aristoteles, telah membangkitkan kembali budaya berpikir yang telah lama redup dalam peradaban tersebut. Kesadaran akan urgensi rasio dalam memahami ayat-ayat Tuhan mulai berkembang subur di Eropa.

Dari sebagian karya-karya terjemahan Ibn Rusyd ke dalam bahasa Ibrani ini kelak muncul karya-karya terjemaham ke dalam bahasa Latin. Inilah yang kemudian mempengaruhi pemikiran Eropa dan menguncang sendi-sendi kehidupan sosio-religius dalam masyarakat barat. Pengaruhnya yang demikian besar terlihat dari adanya gerakan averoisme, yaitu gerakan yang berkembang di Barat sejak abad ke-13 yang berusaha mentransfer dan mengembangkan gagasan-gagasan Ibn Rusyd ke dalam peradaban Barat. Pengaruh Ibn Rusyd kembali menguat di Eropa, tepatnya setelah Lois XI melakukan pembaharuan terhadap keilmuan filsafat. Lois XI memerintahkan pembelajaran terhadap filsafat Aristoteles yang telah dikomentari oleh Ibn Rusyd kepada semua pelajar. Pemikiran Ibn Rusyd pada akhirnya mampu menunjukkan kekuatannya setelah teraniaya pada abad ke tiga belas. Pada abad ini, posisi filsafat Ibn Rusyd yang semula berada di bawah filsafat Ibnu Sina, terlihat mulai mengungguli, bahkan juga terhadap semua bentuk aliran pemikiran yang berkembang di Eropa, filsafat maupun agama.

Itulah kesimpulan yang bisa saya dapatkan dari materi ini. Setelah presentasi kelompok selesai dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, semua anggota kelompok menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh para mahasiswa/I dan dijawab dengan cukup jelas. Bapak Study Rizal selaku dosen juga menambahkan penjelasan materi dan menambahkan jawaban terhadap pertanyaan yang ditanyakan agar para mahasiswa bisa dengan jelas memahami materi Ibnu Rusyd ini. Di akhir Bapak Rizal membahas mengenai ketentuan UAS kepada seluruh mahasiswa/I, kelas berjalan secara kondusif dan lancar. Untuk pertemuan terakhir ini saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Study Rizal selaku dosen pengampu mata kuliah Fisafat Islam, terimakasih sudah dengan tulus dan senang mengajarkan kelas 3C dan 3D Jurnalistik ini, terimakasih banyak. Jangan lupa Bahagia. 

 


Komentar