Filsafat Islam Pertemuan ke 13 - Ibnu Thufail

Pertemuan ke 13 Filsafat Islam.

Nama   : Azalia Naila Putri Adji

NIM      : 11220511000137

Kelas    : Jurnalistik 3C

Kelas Filsafat Islam pada pertemuan ke 13 ini diadakan secara Offline di Ruang Theater Lt.6 gedung fdikom. Pada pertemuan kali ini akan membahas materi “Ibnu Thufail: Sejarah dan Pemikiran Filsafatnya” yang akan dipresentasikan oleh kelompok 11 dari kelas C dan D.

Ibnu Thufail: Sejarah dan Pemikiran Filsafatnya.

Nama lengkap Ibnu Thufail ialah Abu Bakar ibnu Abd Al-Malik ibn Muhammad ibnu Thufai. Ia dilahirkan di Guadix (Arab : Wadi Asy), provinsi Granada, Spanyol pada tahun 506 H/1110 M. Pada mulanya Ibnu Thufail aktif bekerja sebagai dokter dan pengajar, lalu ia beralih profesi sebagai sekretaris pribadi penguasa Granada. Pada tahun 549 H/1154 M, ia dipercaya sebagai sekretaris gubernur wilayah Ceuta dan Tengier (Maroko), sedang gubernur itu merupakan putra Abd al- Mukmin, seorang pendiri Daulah Muwahhidun yang berpusat di Marakesy, Maroko.

Ibnu Thufail tidak seperti kebanyakan tokoh dan filosof muslim lain yang banyak memiliki karya. Namun, beberapa buku biografi menyebutkan bahwa ia sempat menulis beberapa   buku  dalam  beberapa  bidang:  filsafat,  fisika,   dan   kedokteran. Tetapi karangan tersebut hanya  satu  yang  sampai  pada  kita,  yaitu  Hayy  Ibn  Yaqzhan, yang merupakan intisari pemikiran-pemikiran Ibn Tufail, dan telah diterjemahkan dalam beberapa Bahasa. Hayy Ibn Yaqzhan bermakna “Yang Hidup Putra Yang Bangun”. Hayy ibn Yaqzhan adalah tokoh utama dalam karya tulis Ibn Tufail, tetapi sebelumnya juga sudah dipakai oleh Ibn Sina sebagai   tokoh   utama   dalam   sebuah   risalah pendeknya. Selain itu,  dri segi isi, novel tersebut juga memberikan interpretasi terhadap tulisan filsafat Ibnu Sina “Asrar al-Hikmah al-Masyriqiyyah.

Kekhasan   pemikiran   filosofis   Ibn   Thufail,   sebenarnya   terletak   pada karyanya   yaitu   kisah   fiksi   Hayy   Ibn   Yaqzhan   ini.   Dalam   kisah   tersebut,   dia menyatakan pandangan filsafatnya tentang alam semesta, Tuhan, agama, moral,manusia dan wataknya, budaya masyarakat formal serta adanya keserasian antara agama dan filsafat. Dia juga mencoba untuk menjelaskan tentang kemampuan manusia untuk hidup  sendiri   dan   mandiri,  tanpa   adanya   bantuan  bahasa,   agama,   budaya   dan tradisi   yang mewarnainya,  artinya   semua  hal  yang  disebutkan  diatas  itu  tidak sepenuhnya   selalu   mempengaruhi   perkembangan   akal   manusia.   Dalam   ceritaroman   Hayy   bin   Yaqzhan   tersebut,   Ibn   Thufail   juga   mencoba   membuktikan kebenaran tesis kesatuan kebijaksanaan rasional dan mistis melalui kisah fiktif, bahwa manusia dengan segala kelemahannya dapat saja berkomunikasi dengan Tuhan   dengan   kekuatan   akalnya   (filsafat)   maupun   dengan   kekuatan   kalbunya(tasawuf). 

Itulah sedikit kesimpulan yang bisa saya dapat dari materi Ibnu Thufail ini, lalu setelah presentasi kelompok 11, dibuka sesi tanya jawab disini saya bertanya mengenai Ibnu Thufail ini yairu pertanyaan saya:

“Apa dampak pemikiran Ibnu Thufail dalam pengembangan ilmu filsafat di dunia Islam?”

Jawaban yang diberikan oleh kelompok 11:

“Pemikiran ibnu tufail memberikan dampak pada kesadaran pentingnya rasionalitas dalam berpikir. Pemikiran ibnu thufail yang termanifestasikan oleh hayy ibn yaqzan, mencerminkan perpaduan antara empirisme dan rasionalisme. Hayy, tokoh utama dalam novel tersebut, mengembangkan pengetahuannya melalui pemikiran rasional. ibnu rusyd salah satu filsuf muslim yang tekenal dengan pendekatan rasional terhadap iman dan agama menerima karya ini dengan baik, bahkan pemikiran ibnu thufail secara tidak langsung memiliki dampak pada pemikiran filsafat Barat. Kisah tentang individu yang memperoleh pengetahuan melalui pengalaman pribadi dan eksperimen dapat dilihat sebagai elemen yang memengaruhi pemikiran tokoh-tokoh barat.”

Saya sudah merasa cukup jelas dengan jawaban yang yang diberikan oleh Kelompok 10. Lalu Bapak Rizal selaku dosen juga menambahkan jawaban mengenai pertanyaan yang saya berikan, serta menambahkan penjelasan mengenai materi “Ibnu Thufail” ini. Diskusi kelompok berjalan dengan baik dan kondusif. Bapak Rizal juga sangat baik dan teliti dalam memberikan penjelasan. Terimakasih.


Komentar